Rabu, 18 Juni 2014

Ketika Luka itu Masih Ada



               Amarah memang sebaiknya diluapkan dengan cara yang baik, menahan emosi atau dengan diam. Tapi aku lebih memilih untuk menulisnya.
               Hari yang buruk itu kembali lagi. Malam dimana tangisanku dengan mudahnya mengucur dari kedua mataku. Terlalu banyak hal yang harus dibendung hingga pada akhirnya aku tak kuat menahannya lagi. Masih ada perlakuan buruk yang kala itu terjadi kini lukanya masih tersisa. Awalnya aku memang tak ingin negative thinking, tapi atas penuturan yang tak sengaja diutarakan, rasa penasaran itu terbayar sudah. Keraguan yang dulu sempat menjadi rasa curiga ketika masalah tersebut menyeruak, kini dugaanku benar.
                Malam itu dengan sengaja aku benar-benar ditinggal karena sebuah kesalahan yang bukan secara sengaja aku lakukan. Dimana penegakan  dan pembelaan tak bisa kulakukan, alasan yang kuutarakan pun tak diterimanya. Aku tidak berniat untuk membantah ataupun memontong pembicaraan. Aku hanya ingin membela diri, AKU JUGA PUNYA HAK ATAS HAL ITU !!. Tapi aku ini orang kecil, tak pandai berkata seperti mereka orang besar. Akupun pasrah, ku biarkan saja luapan amarah itu menerjangku satu persatu, biar puas apa yang dirasa. Apa daya yang dilihat selalu saja kesalahan dan kesalahan. Bukankah seharusnya manusia tetap tersadar bahwa mereka adalah tempatnya salah dan dosa ?. Lantas, dengan keras  dan tanpa kasihan aku di hakimi bagai mereka tak mengenalku lagi.
                Aku mencoba untuk membiarkannya, mungkin hati ini sudah kebal menghadapi semuanya. Aku berusaha memahami, mengalah karena salah, dan diam karena tak banyak yang bisa ku lakukan saat ini. Lambat laun pasti akan kembali meskipun butuh penyesuaian. Tapi, dari semua kejadian itu, setiap detainya  bagai tak bisa kulupakan. Lalu kenapa harus kenangan pahit yang paling membekas ?. Lagi – lagi tak ada yang bisa dituntut atas apa yang telah terekam oleh memory.
                Ancaman ?. Hal ini tiba – tiba mengejutkanku hanya karena hal yang sangat sepele. Bukankah seharusnya dia memberikan contoh yang baik, tetapi malah mengancam. Ya sudah, aku lebih baik mengalah lagi dan lagi. Sulit memang, bahwasanya yang dihadapi bukanlah sosok yang pantas untuk dibiarkan menang. Orang lain mungkin tak percaya, semua memang terlihat baik – baik saja, bahkan sepertinya tak ada yang harus di permasalahkan. Tapi, disini aku yang merasakannya. Sekuat mungkin aku memang menyembunyikan ini semua. Mungkin saja dia juga tak pernah tahu, aku terisak menulis ini semua. Sadarkah ? Pedulikah saat ini ? Ah, mungkin tidak.
                Aku memang sengaja tak menceritakan permasalahan yang ku hadapi. Aku tak ingin mereka menanggung malu, bagaimanapun juga aku tetap harus menjaga nama baiknya, karena berhubungan dengan harga diriku dan semuanya yang terlibat. Aku hanya ingin meminta keadilan saja, bahwa diantara kami sejujurnya ingin mendapatkan perlakuan yang sama, ingin mendapatkan kasih sayang yang sesuai. Meskipun porsi keadilan tak harus sama dan seimbang. Tapi keadilan punya kebutuhannya sendiri – sendiri.
                Aku tak ingin lelah, meskipun harus berjuang lebih keras lagi membuat kalian bangga. Aku memang tak mengharapkan pujian atas prestasi yang pernah kuraih. Aku hanya ingin, rasa bahagia itu terlihat. Bahkan semuanya akan tampak biasa saja. Aku tahu, hebat dimata kalian memang istimewa, dan aku belum meraihnya. Tapi suatu saat, akan kuperlihatkan bahwa aku disini bisa membuktikan. Aku tak ingin setiap saat diremehkan begitu saja. Aku ingin lihat, bahwa senyum itu terlukis karenaku, karena rasa tidak terima itulah aku ingin memperbaiki semuanya yang setiap kali dipandang buruk. Semoga Allah mempermudah jalanku, dan memberi kesabaran, ketabahan juga kekuatan diantara langkah demi langkah yang kukorbankan.
               

Sabtu, 14 Juni 2014

"Cerpen" AMARAHKU MEMBAWA BERKAH



            Ini cerpen sebenarnya dibuat untuk lomba saat peringatan Isra' Mi'raj di sekolah. Tapi karena ada kesalahan informasi, akhirnya di cancel untuk berpartisipasi dalam perlombaan. Ternyata ketentuan cerpen harus di tulis tangan, dan waktu itu aku juga mendapat jatah untuk lomba kaligrafi. Karena teman - teman juga nggak ada yang sanggup menulisnya, akhirnya kami mengundurkan diri. Alhamdulillah, tak ada yang sia - sia, akhirnya kaligrafi mendapat juara 1 yang setidaknya bisa membanggakan nama kelas :). Dan terimakasih untuk Nia Ferdiana, teman semeja ku yang sudah merelakan waktunya untuk mengedit sedikit demi sedikit tulisanku yang masih acak - acakan ini. Selamat membaca sobat !

Senja di hari Kamis yang damai, senja yang menyimpan harapan ingin segera disampaikan. Aku menunggu waktu yang tepat agar bapak mau mendegar apa yang aku inginkan. Tapi aku merasa ragu untuk menyampaikannya. Ku lihat lagi tanggal di kalender kamarku. Orang – orang menyebut setiap minggu terakhir di akhir bulan sebagai tanggal tua. Lagi – lagi  soal materi yang menjadi permasalahan. Aku tahu, bapak memang tak berpenghasilan banyak untuk bisa memenuhi semua kebutuhan yang diperlukan anak – anaknya. Ditambah lagi sifat bapak yang tegas terkadang membuatku takut dan berkecil hati. Namun, tak ada salahnya mencoba. Ku hampiri bapak setelah menunaikan sholat Ashar dengan segenap persiapan mental, lalu ku utarakan secara perlahan.
                “Pak, Nisa butuh uang untuk beli tas, sudah kedua kali ini tas Nisa dijahit kerena rusak”, ujarku penuh harap.
                “Bapak belum punya uang, kalau masih bisa diperbaiki kenapa harus beli ?”, jawab bapak menasehatiku.
                “Tapi Nisa malu pak, tasnya sudah jelek sekali, berbeda dengan tas milik teman – teman Nisa yang masih bagus”, aku merayu sekali lagi.
                “ Bapak kan sudah bilang kalau bapak tidak punya uang. Tak usah membandingkan dengan milik temanmu, syukuri saja apa yang ada. Masih beruntung kamu bisa sekolah, masih banyak anak di luar sana yang nasibnya lebih buruk. Nabi Muhammad, kan selalu mengajarkan kepada kita untuk hidup sederhana”, ujar bapak dengan nada sedikit meninggi.
                “Ya sudah pak”, jawabku pasrah.
Aku pun pergi meninggalkan bapak dengan perasaan kecewa yang mendalam. Jika bapak sudah berceramah begini, aku memang tak bisa membantah. Profesi bapak sebagai kyai, dan orang – orang di desaku menganggap bapak sebagai sesepuh. Hal itu membuat beliau selalu memintaku menjaga sikap. Aku bukannya tidak bersikap sopan dihadapan mereka, hanya saja mereka menganggapku sedikit bandel, dan kata-kata itu membuat bapak semakin bersikap keras kepadaku. "Anak kyai kok seperti itu”, perkataan seperti inilah yang membuatku malas untuk menghargai mereka. Seringkali hal seperti ini membuatku merajuk. Bukan untuk pertama kali, bahkan ini sudah yang kesekian kalinya. Jika sudah seperti ini ingin rasanya aku mengasingkan diri dari rumah. Lebih baik pergi menenangkan diri karena amarah yang terpendam sedari tadi.
Aku berjalan bagaikan daun terbang tanpa arah. Aku sedang ingin menyendiri, mencoba menerima ketidakserasian antara kenyataan dengan keinginan hati. Mungkin hal ini terlihat sepele, tapi aku juga tak mengerti mengapa hatiku memilih pergi dari rumah. Bila diingat, hanya akan menambah sedih ketika kudapati sikap bapak yang lebih menyayangi Ananda dan Adinda, adik kembarku yang paling bungsu. Aku tahu, mereka lebih butuh banyak perhatian di umurnya yang menginjak 10 tahun ini. Tapi meskipun aku anak tertua yang seharusnya menjadi panutan untuk ke empat adikku, bukankah semestinya aku juga mendapat hak yang sama ?. Keadilan pun sering menjadi pertanyaan yang selalu mengusik pikiranku, karena aku tak berani menuntut apapun dari bapak, maka aku memilih untuk diam.
Langkah kakiku mulai lelah, wajahku semakin sayu. Aku menghentikan perjalanan dan beristirahat sejenak di Taman dekat Balai Desa. Hari sudah semakin sore, tapi aku tak ingin pulang sekarang. Nampak dari kejauhan terlihat dua orang anak perempuan berjalan menuju  kearahku. Wajahnya pucat, langkahnya mulai terseret – seret. Mereka juga beristirahat dan duduk persis di sampingku. Aku memandangnya penuh rasa iba. Aku mencoba berpikir dari mana saja mereka seharian sampai wajahnya pucat seperti itu. Pakaiannya terlihat kusam, sembari membawa berkas – berkas proposal diatas pangkuannya. Aku masih menatap kearah mereka, dan ingin bertanya meskipun aku tak mengenalnya. Aku seperti melupakan amarahku ketika melihat mereka berdua. Anak tersebut membuka tasnya dan menghitung uang yang mereka miliki.
“Dek, kalian darimana saja, kok wajahnya pucat begitu ?”, aku memberanikan diri untuk bertanya.
kami habis menyebar proposal untuk panti asuhan mbak”, jawab salah seorang dari mereka.
“Oh begitu, kalian tinggal di panti asuhan mana ?”, aku sepertinya ingin tahu lebih banyak tentang mereka.
“ Di Panti Asuhan Aisyah Banjarsinaga mbak”
“Banjarsinaga ? lumayan jauh lho dari sini. Kalian naik apa bisa sampai di sini, kalian ini masih terbilang kecil dek, nanti kalau di culik atau ada yang ingin berbuat jahat dengan kalian  bagaimana?”
“InsyaAllah tidak mbak, kan ada Allah yang selalu melindungi kita. Aku dan adikku ini harus menyebarkan proposal ke beberapa tempat, karena panti yang kami tempati sedang butuh dana untuk biaya makan sehari – hari. Kami tak tega melihat Ibu panti yang setiap hari mencarikan donatur untuk kami. Masih bisa ditampung di Panti Asuhan saja kami sudah bersyukur mbak. Kami juga merasa tidak nyaman jika selalu membebani pengurus panti yang akhir – akhir ini kelelahan mencari donatur untuk kami.”
Aku terdiam mendengar cerita dari anak ini. Hatiku bergetar mengingat apa yang terjadi tadi. Betapa dia berpikir jauh lebih dewasa daripada aku yang umurnya lebih tua darinya. Rasa syukur masih tetap terucap dalam keadaan yang memang lebih buruk dariku. Ya Allah aku merasa sangat berdosa sekali bila aku mengingat akan sikapku yang sering menuntut banyak dari orang tuaku, sampai-sampai aku lupa untuk bersyukur kepadaMu.
“Mbak, kok melamun. Ada apa?”, ujarnya seraya menepuk pundakku.
“Eh, tidak dek, (mengalihkan pandangan), Oh iya, sejak tadi kita bercerita tapi belum berkenalan. Namaku Nisa, kamu ?”
“Oh iya mbak, sampai lupa. Saya Muyasaroh dan adikku Niken. Mbak mau tanya, di dekat sini ada warung tidak ?. Saya mau beli makanan untuk berbuka puasa”, tanya Muyasaroh dengan sopan.
“Subhanallah, kalian ini puasa ? pantas saja wajah kalian pucat sedari tadi. Mungkin kalian terlalu lelah. Warungnya ada dek, tapi masih agak jauh dari sini. Gimana kalau kalian pulang saja kerumahku, dan berbuka di sana, sebentar lagi sudah mau adzan maghrib”, pintaku pada mereka.
“ Eh, ndak usah mbak. Nanti merepotkan, saya beli diwarung saja tidak apa – apa”, dia menolak tawaranku.
Aku mencoba merayu mereka kembali agar Muyasaroh dan Niken mau menerima tawaranku. Aku tak tega  bila melihat mereka harus berjalan lebih jauh lagi untuk pergi ke warung. Dan akhirnya, mereka mau menerima tawaranku untuk berbuka puasa di rumah. Selama diperjalanan menuju kerumahku, Muyasaroh bercerita tentang kehidupannya. Ayah dan ibunya sudah lama meninggal saat Muyasaroh berumur 7 tahun dan Niken berumur 5 tahun karena kecelakaan. Setelah kejadian itu ada tetangga mereka yang berbaik hati mengantarkan Muyasaroh dan Niken di Panti Asuhan Aisyah karena tak ada yang bisa menampung mereka. Saudara – saudara mereka tak ada yang bisa mengurus Muyasaroh dan Niken karena masalah ekonomi yang selalu menjadi hambatan.
Betapa malangnya nasib kedua anak ini. Selain tidak mempunyai orang tua, mereka juga tidak bisa mengenyam bangku pendidikan. Terkadang ada beberapa guru yang dengan sukarela mengajar anak – anak di Panti dengan buku – buku seadanya. Meskipun tak setiap hari, tapi mereka sudah senang karena masih diberi kesempatan untuk menimba ilmu. Hidup dalam kesederhanaan, mau tak mau harus mereka terima. Tak jarang rasa sepi begitu sering menghampiri, berharap mereka juga mendapatkan kasih sayang seperti yang didapatkan oleh anak – anak lainnya.
Karena keasyikan bercerita, tak terasa kami bertiga sudah sampai di rumahku. Kami bertiga langsung masuk kerumah.
“Nah, ini rumah keluargaku, ayo masuk dulu. Beberapa menit lagi pasti sudah Adzan “, aku mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam rumah.
“ Iya, terimakasih mbak. Maaf kami berdua jadi merepotkan mbak” ujar Muyasaroh.
“Tidak apa – apa, kita semua kan saudara, jadi harus saling tolong-menolong, saya kebelakang sebentar ya”.
Aku menghampiri bapak untuk memberitahunya bahwa aku membawa dua orang tamu. Saat bertemu dengan bapak, aku menjelasakan perihal tentang Muyasoroh dan Niken kepada bapak. Syukurlah, bapak menerima mereka dengan baik. Bapak pun senang dengan niat baikku yang memuliakan seseorang yang sedang berpuasa dan juga anak yatim piatu. Adzan Maghrib sudah berkumandang, aku menyuguhkan minuman dan beberapa makanan untuk Muyasaroh dan Niken.



“Ini silahkan di minum dan di makan, sudah waktunya berbuka puasa”,ujarku.
“Oh iya, terimakasih banyak mbak”, jawab Muyasaroh. Niken hanya tersenyum kepadaku seraya mengucap do’a dalam hatinya dan menyegerakan berbuka puasa.
“Niken daritadi kok kelihatannya diam kenapa dek Muya?”, tanyaku pada Muyasaroh setelah mereka berbuka.
“Iya mbak, Niken bisu sejak lahir dan pendengarannya kurang peka, jadi dia tidak berbicara dari tadi”, jelas Muyasaroh kepadaku.
“Oh, maaf dek. Saya tidak tahu kalau Niken ini bisu, saya jadi tidak enak sudah menanyakan hal tersebut”, aku merasa bersalah dengan Niken, tapi Niken tersenyum lagi kepadaku. Aku pun membalas senyum itu sebagai permintaan maafku.
“Dek Muya, tadi bapak pesan kepada saya, agar kalian menginap semalam disini. Hari sudah semakin gelap.Tak baik jika kalian pulang dimalam hari seperti ini. Besok kalian bisa kembali lagi ke panti asuhan”,ujarku pada Muya.
“Bukannya kami menolak mbak. Kami takut merepotkan keluarganya Mbak Nisa. Saya  dan Niken sudah diberi suguhan untuk berbuka puasa saja sudah Alhamdulillah”, Muya menolak tawaranku lagi.
Aku tak sungkan untuk merayunya lagi. Membiarkannya pulang disaat seperti ini bukan jalan yang baik. Dan akhirnya mereka pun mau menerima niat baikku ini. Jika direnungkan, pertemuanku dengan Muyasaroh dan Niken sepertinya memberikan pelajaran yang begitu berharga bagiku tentang rasa syukur yang seharusnya aku lakukan. Terlalu lama sudah aku tenggelam dalam nikmatnya dosa dan keangkuhan dunia. Seringkali aku tak menikmati apa yang sudah diberikan Allah untukku. Kesabaran Muyasaroh dan Niken menjadi motivasi baru untukku agar menghargai apa pun yang aku miliki. Aku percaya, pertemuan ini pasti bagian dari rencana Allah untuk membawaku ke jalan yang lebih baik. InsyaAllah, aku menerima apa yang aku miliki sekarang, rezeki pasti sudah ada yang mengaturnya. Lebih baik aku meningkatkan ketaqwaanku pada-Nya.
Tiba-tiba bapak mengahmpiri kami bertiga.
“Nisa, malam ini bapak akan mengisi pengajian di Masjid untuk acara Isra’ Mi’raj, jika teman-temanmu berkenan, bapak akan membawa proposal Panti Asuhan dan mengumumkannya kepada para jama’ah, siapa tahu ada yang ingin menjadi donatur untuk panti mereka!”, ujar bapak.
“terimakasih pak, teman-temanku pasti setuju, iya kan Muyasaroh?”, tanya Nisa.
“iya mbak, kami berdua setuju. Terimakasih pak, maaf kami berdua telah merepotkan bapak dan mbak Nisa!” jawab Muyasaroh.
“iya tidak apa-apa, kami senang bisa membantu kalian. Ini proposalnya bapak bawa ya?”
  Aku pun mengurungkan niatku untuk membeli tas baru jika bapak benar – benar tak memiliki uang. Jika dibanding dengan Muyasaroh dan Niken aku masih lebih beruntung, aku tak lupa mendo’akan mereka agar selalu dalam lindungan-Nya. Terimakasih untuk Muyasaroh dan Niken yang telah membuka mata hatiku untuk lebih dan lebih bersyukur lagi kepada-Nya. Dan yang terpenting, terimakasihku kepada-Mu Ya Allah, hingga saat ini Engkau masih memberiku hidup.
SELESAI

Sabtu, 17 Mei 2014

Larangan Itu Bisa Jadi Bentuk Kasih Sayang



Udah lama rasanya nggak ngeblog lagi. Kali ini saya mau sedikit berbagi cerita. Bisa jadi juga pengalaman pribadi. Kejadian ini tepatnya pada 12 April 2014 lalu. Entah mengapa aku nggak pernah ingin hari ini terulang kembali.
Waktu itu hari Sabtu setelah pulang sekolah rencananya mau ngerjain tugas Bahasa Indonesia. Tugasnya agak berat sih, bikin film ceritanya. Tapi sikon sepertinya nggak mendukung, karena waktu itu hujan deres banget. Aku ditemani salah seorang anggota kelompok filmku akhirnya berteduh di Masjid sekolah. Awalnya, ku kira nggak jadi bikin filmnya. Namun tak berapa lama kemudian hujannya reda. Aku sama temanku memutuskan untuk bertemu dengan anggota kelompok  yang lain. Kesepakatan akhirnya pembuatan film tetap dilangsungkan.
Sekitar jam  4 sore, take film pun di mulai. Ku kira sih bakalan langsung berhasil adegan – adegannya. Tapi karena kami bukan artis dan belum terbiasa, kesalahan pun menjadi hal yang wajar. Tanpa terasa waktu semakin cepat, aku pun tak sadar kala itu hari sudah sore. Jam 5 lebih dikitlah kira – kira, tak film berakhir. Dan inget juga waktu itu langsung buru – buru Sholat Ashar karena sudah mendekati maghrib. Suasananya udah mulai gelap, aku segera telfon ibu ku untuk ijin pulang agak terlambat. Berharapnya ingin di maklumi, tapi malah kena semprot. Setelah itu, telfon langsung dimatikan. Adzan Maghrib berkumandang, rasa panik bertambah 2 kali lipat.
Aku langsung takut, nggak berpikir lama, yang penting buru – buru pengen pulang. Aku emang salah sih waktu itu lupa nggak ngasih kabar sebelumnya kalau mau ngerjain tugas. Tapi biasanya orang tuaku sudah paham kalau aku pulang sore mungkin ada kegiatan di sekolah. Entah rapat organisasi ataupun ada keperluan lainya. Biasanya aku memberi kabar kalau emang pulangnya telat banget, baru aku sms atau telfon. Tapi kali ini, aku bener – bener lupa. Pas take film itu aku nggak kepikiran ngantongin hp buat ngasih kabar, mungkin perasaan emang udah nggak enak dari awal, tapi ya mau gimana lagi. Ini udah mandat buat ngerjain itu tugas, mau nggak mau ya harus di selesaikan karena aku nggak mau di bilang egois.
Sebelum pulang, aku nganterin temenku pulang, soalnya dia nggak ada yang jemput dan nggak bawa kendaraan. Agak jauh sih dari rumahku, tapi kalau nggak dianter kan dia juga kasian. Awalnya aku udah bilang kalau udah di marahin suruh cepetan pulang kerumah. Tapi aku juga nggak tega kalau dia harus naik angkutan umum, udah jam segitu pastinya jarang ada yang lewat.
Setelah aku nganter dia pulang. Ternyata dia ngambil motornya trus nganterin aku pulang untuk  minta maaf ke orang tuaku, soalnya aku jadi pulang telat. Sesampainya di rumah, raut wajah bapak dan ibu udah bikin aku tambah takut. Ku kira juga kehadiran temenku itu bakal meredakan amarah mereka. Tapi ternyata tidak. Tetep aja aku dimarahin habis – habisan. Nggak usah di jabarin lah dimarahinnya kayak gimana, aku nggak mau inget saat itu lagi. Aku cuma bisa diem dan nunduk, mau protes tapi nggak bisa. Kata – katanya nusuk bukan main. Berbagai ancaman pun sempat terdengar. Aku hanya bisa pasrah dan menyabarkan diri. Orang tuaku memang tergolong keras ketika anaknya melakukan kesalahan. Mungkin begitu caranya mereka mendidik, meski tak sesuai harapanku. Tapi aku tahu, di balik itu semua, mereka lakukan karena  sayang.
Setelah temanku pulang, aku langsung masuk ke kamar. Nggak usah di tanya lagi, aku langsung nangis. Bukan karena cengeng atau apapun aku menangis. Aku bahkan tak menyangka kejadiannya bakal seburuk ini. Nggak ada persiapan mental untuk menguatkan diri. Mungkin selepas itu perasaanku sedikit melega. Tak berapa lama kemudian semua penghuni rumah pergi. Nggak tau juga ada urusan apa dan pergi kemana. Yang jelas malam itu, aku di rumah sendirian. Puas banget mungkin ketika nangis tapi mereka nggak tahu. Aku mencoba menenangkan diri agar tak larut dalam kesedihan. Aku berpikir untuk menelfon salah satu temanku yang sudah sangat aku percayai. Aku menceritakan kejadian tersebut dari awal, dan meminta solusi darinya. Cukup lega setelah beban – beban yang semula dirasakan sendiri lalu di keluarkan melalui cerita itu rasanya lebih ringan. Aku emang bukan tipe orang yang bisa mendem masalah berlama – lama. Tak ada untungnya juga jika di biarkan begitu saja. Yang ada beban itu terasa semakin berat. Coba saja jika kita berbagi cerita atau meminta solusi dengan orang lain. Pasti rasanya berbeda. Tapi dalam tanda kutip orang tersebut bisa dipercaya untuk menjaga rahasia yang kamu sampaikan. Tak ada salahnya juga jika kita terbuka dengan orang lain, siapa tahu bermanfaat untuk menambah pengalaman mereka.
Setelah kejadian itu, aku nggak pernah berani pulang sore lagi. Wajarnya saja perempuan memang tak elok jika mendekati Adzan Maghrib atau setelahnya bahkan sampai larut malam masih keluyuran di luar rumah. Meskipun hari itu adalah hari yang buruk bagiku, namun tak ada yang sia – sia. Pasti selalu ada hikmah yang bisa kita ambil dari setiap kejadian yang baik maupun buruk. Aku juga bersyukur, orang tuaku protective sekali denganku karena mereka tak ingin hal – hal negatif di zaman globalisasi ini menimpaku. Itu artinya mereka masih peduli, meski terkadang tidak setiap perhatian yang mereka berikan sesuai dengan apa yang kita harapkan.
“Belajar untuk menerima, memahami, dan bersabar atas apapun kejadian buruk yang menimpamu”

Minggu, 06 April 2014

My Experience, at "Penjara Suci"


            Bangunan bertingkat bernuansa merah muda. Bak kapal pesiar yang sedang berhenti di pinggiran dermaga. Apalagi jika dilihat pada suasana malam. Tempat ini indahnya bukan main. Namun, satu tahun lebih aku tak berdomisili di sana lagi. Tempat dimana dulu aku menimba ilmu. Kami menyebut tempat ini “Penjara Suci”. Bagaimana bisa tempat yang tergolong bagus ini disebut penjara suci ?. Memang bisa, karena tak semua orang berminat untuk tinggal disana, tantangan yang harus di jalani bisa jadi lebih banyak. Mulai dari jauh dari orang tua, ditambah lagi banyaknya mata pelajaran yang di berikan, lalu ditargetkan untuk menghafalkan Al-Qur’an. Awalnya, mungkin orang – orang yang tak sepaham akan memandang sebelah mata. Tapi jika dirasakan, seharusnya aku bangga. Bangga karena pernah di beri kesempatan menambah pengalaman disana. Tidak mudah memang, karena dulu aku pernah minta pindah saat kelas 1 SMP. Dan pada akhirnya, aku memilih untuk bertahan, karena banyak teman – teman yang menguatkanku untuk tetap tinggal.

3 tahun mondok disini ternyata cukup singkat karena sudah kulewati. Suka duka selama itu kadang membuatku meminta untuk kembali. Ingin rasanya mengulang kenangan – kenangan yang tak terlupakan. Salah satunya mempunyai teman-teman dari berbagai pelosok nusantara, ada yang dari Sulawesi, Sumatra, Papua, Jakarta, Kalimantan, Bali, dan masih banyak lagi. Tapi perbedaan diantara kami bukan berarti menjadikan diskriminasi datang, justru karena hal itu kami menilainya sebagai pelengkap. Aku ingin menceritakan sedikit tentang rutinitas selama di sana. Mulai dari shubuh seperti biasa sholat berjama’ah, disini setiap memasuki waktu sholat harus berjama’ah di mushola asrama, sebelum adzan biasanya ada penghitungan waktu dari 1 – 10 agar semuanya berkumpul di ruangan sholat. Lalu yang terlambat akan di beri iqob ( hukuman ). Kadang kala aku sering di Iqob juga sih, tapi disinilah aku di beri pelajaran tentang kedisiplinan untuk selalu sholat tepat waktu. Setelah itu, ada jadwal tahfidz ( setor hafalan qur’an ). Tapi kebanyakan setelah sholat shubuh langsung balik ke kamar dan langsung antri mandi. 1 kamarnya waktu itu diisi 6 anak, jadi nggak bisa berlama – lama mandinya, kasihan yang dapat antrian terakhir, bisa jadi dia nggak dapet jatah mandi. Kalau mandi sudah kelar, saatnya ambil jatah makan, enak nggak enak tetep harus di makan. Setelah itu langsung berangkat ke sekolah. Nah waktu aku disana, yang akhwat (perempuan)  belum punya gedung sekolah pribadi. Jadi, kami istilahnya mengontrak di SD milik warga yang sudah tidak di pakai. Jarak dari asrama ke sekolah pun tidak dekat. Bisa dibilang lumayan jauh sih, dan itu melewati pemukiman warga dan sawah. Kalau dijalani bebarengan rasa lelah itu kadang nggak terasa, kadang pula harus berlarian biar nggak terlambat dan nggak kena iqob.
Proses belajar mengajar  kurang lebih sampai jam 13.00 WIB. Hampir sekitar 30 mata pelajaran yang diajarkan setiap minggunya, itu sudah termasuk pelajaran umum dan diniyah. Namun yang sering terjadi, masih banyak pelajaran kosong saat KBM. Mungkin dari jarak dan gurunya waktu itu belum banyak. Jadi rasa bosan itu kerap kali datang saat pelajaran kosong, ditambah lagi kami dilarang membawa alat elektronik yang  bisa digunakan sebagai hiburan. Kalau nekat sih ada beberapa yang bawa, cuma.... resikonya di sita dan dibanting kalau ketahuan uztadzah. Alhamdulillah aku belum pernah bawa, karena waktu itu memang belum di belikan ceritanya :D. Lanjut ke topik awal, setelah sekolah usai kami dibebaskan untuk beraktivitas. Tapi masih di lingkungan asrama, biasanya aku pulang sekolah sih nyuci baju. Kalau yang banyak duit dan lagi malas nyuci disediakan laundry.
Sore harinya setiap Sabtu & Minggu ada extra Tapak Suci & Pramuka. Biasanya pada seneng tuh kalau lagi extra, soalnya bisa keluar asrama, meskipun cuma di lapangan atau di sekolah yang ikhwan ( laki- laki ). Terus tapak suci & pramukanya di gabung ikhwan sama akhwat, pada curi – curi pandang deh itu mata. Maklum jaman – jaman anak muda sukanya gini. Lalu kalau setiap malam jum’at ada yang namanya “Muhadhoroh”. Sekilas seperti Inagurasi gitu, tapi ada penampilan ber pidato, mulai dari pidato Bahasa Arab, Bahasa Indonesia, sama Bahasa Inggris dan ini nggak boleh bawa text, jadinya harus ngehafalin. Gugup banget waktu itu aku dapet jatah pidato bahasa arab, ngehafalinnya lumayan sih, lumayan susah. Trus terakhirnya ditutup dengan Haflah (hiburan) bisa drama, ataupun nyanyi. Tiap minggu yang dapet jatah pidato, haflah, maupun petugas dekorasinya sudah di jadwal. Jadi semua harus merasakan gimana rasanya pidato di depan banyak orang, nampilin haflah, ataupun mendekor ruangan untuk muhadhoroh. 

Kemah akhir tahun di pantai Glagah

                                               Jambore se DIY - Jateng di candi Prambanan

Hiking, pendakian puncak Gunung Ampon

  Ini salah satu contoh, muhadhoroh. Menggunakan property seadanya :)

Yang berbeda disini nggak ada Pelajaran olahraga sama Bahasa Jawa. Karena setiap Jum’at pagi ada olahraga rutin + Mufrodhat (penambahan kosa kata bahasa arab). Kalau pelajaran Bahasa Jawa di tiadakan karena banyak anak yang berasal dari luar jawa dan mungkin belum bisa berbahasa jawa. Setelah 2 tahun disana, akhirnya pas aku kelas 3 SMP, gedung untuk KBM sudah bisa di gunakan. Letaknya hanya di samping asrama, sekitar 3 menit sudah sampai. Kadang kalau KBM lagi kosong, suka pada nakal balik ke kamar, entah tidur atau cuma duduk – duduk. Biasanya pas kelas 3 itu masa nakal – nakalnya, padahal juga mau ujian nasional. Kalau pas kelas 2 harus tertib sama peraturan. Karena waktu itu jadi anggota OSIS, hampir semua peraturan dipasrahkan ke OSIS. Jadi mau nggak mau ya kami harus memberi contoh yang baik sama adik – adik kelasnya. Pernah sih waktu itu aku dan temen – temen kabur ke warnet, jaman – jaman facebook masih rame. Kaburnya rame – rame juga biar nggak takut, dan apesnya tetep ketahuan meskipun udah sembunyi – sembunyi. Akhirnya di sidang sama Sie Keamanan yang SMA, trus di iqob bersihin tempat sampah + kamar mandi. Dan parahnya, tempat sampahnya gede –gede, tingginya hampir 1 meter. Itu, bauknya nggak usah dijabarin rasanya gimana. Tapi karena yang di iqob banyak, kami malah seneng meskipun di lihatin banyak orang dari jendela – jendela kamar. Selebihnya masih banyak pengalaman yang ingin kuceritakan tapi tersimpan di diary sih. Hampir semua anak ahkwat disana pasti punya diary. Isinya biasanya curhatan, keluhan, maupun harapan. 3 tahun disana aku udah namatin hampir 7 diary. Kalau aku baca – baca lagi tuh isi diary kadang ngerasa ilfeel atau suka ketawa sendiri. Yah, maklum anak SMP pemikirannya belum dewasa.
Mungkin ini saja yang bisa ku ceritakan dari secuil pengalaman yang pernah ku lalui, tangannya udah capek ngetik soalnya. Intinnya, mondok itu nyenengin kalau kita emang bener – bener niat. Selain itu juga bisa jadi benteng buat diri kita sendiri. Meskipun kalau di kategorikan, aku belum bener – bener sukses menimba ilmu disana, tapi setidaknya aku bisa mengambil hikmah selama 3 tahun. Kalau aku punya anak, pengen juga sih dipondokin gitu, duh mikirnya kejauhan ya. Semoga tulisanku ini bermanfaat ya, walaupun agak gak mutu.
“Salam damai dari saya, tetaplah menjadi pribadi yang baik dan semakin baik” :)

Ini ada beberapa foto saat si asrama 

                                     Lomba fashion show bebarengan dengan kartini day's



                                     Ini saya dan teman seperjuanganku Salsabila Yasmin


                                                          Pulang dari KBM di Sekolah Jitar


                                                          Setelah ujian praktek di IBS

                                                                           Muntilan, 06 April 2014
                                                       By Fathimah Az-Zahra

Template by:

Free Blog Templates